Rss

Maafkan kami Kakek

Category :

Tidak beda dengan tahun-tahun lalu, tujuh belas Agustus selalu menjadi moment untuk memperingati sejarah perjuangan bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan. Di kantor pemerintahan maupun instansi swasta selalu ada spanduk semboyan atau tema yang tiap tahun berganti.

Terakhir saya baca di depan gedung PT. Telkom “Dengan semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, kita tingkatkan kedewasaan kehidupan berpolitik dan berdemokrasi serta percepatan pemulihan ekonomi nasional menuju Indonesia yang bersatu, aman, adil, demokratis dan sejahtera”. Dan seperti tahun lalu juga saya selalu malas untuk menterjemahkan atau mencerna lebih dalam apa yang dimaksud oleh satu kalimat yang menurut saya dibuat seolah tersusun seindah mungkin tapi sangat luas jangkauannya , sehingga sulit untuk dikenali apakah sudah tercapai atau belum tujuan dari kalimat tersebut.

Terlepas dari kalimat “indah” tadi, kenikmatan lepas dari penjajah memang tidak lepas dari jasa para pejuang dulu, apakah mereka diakui menjadi pahlawan atau tidak, dikenali atau tidak, diketahui atau tidak, diberitakan atau tidak, menjadi omongan atau tidak namun yang pasti nikmat merdeka sudah kita rasakan. Kita hormati jasa mereka, kita hargai perjuangan para pahlawan karena kita tidak perlu menerobos maut menentang penjajah ataupun melepas maut dipeluru kompeni.

Saya teringat sepulang dari mengikuti event sepeda kuno di Gedung Juang 45 tanggal 9 Agustus kemaren.

Bersama rekan zaynal saya bermaksud mampir dulu ke rumah Supar Pakis (pelukis) untuk silaturahmi, karena rumahnya masuk kedalam jalan kecil dan banyak orang lagi ngecat dan menghias gang, terpaksa sepeda onthel dituntun (tidak dinaiki) agar lebih sopan. Tidak disangka di barisan terakhir orang yang lagi “kerja bakti “ tersebut saya dan rekan saya dihadang oleh lelaki tua yang saya yakin beliau adalah seorang veteran perang. Dengan ekspresi terkesan emosi beliau seolah marah dan mengatakan “tolong bilangi teman-teman sampeyan itu.. bendera merah putih jangan ditaruh dibelakang pantat. Dulu kita berjuang mendapatkan merah putih itu dengan berlumuran darah ....” dan beberapa kalimat lagi yang sudah tidak bisa saya ingat.

Saya sempat kaget karena perasaan saya tidak menginjak cat yang masih basah dan juga sudah turun dari sepeda onthel kok masih dimarahi sama bapak ini yah... Tapi setelah berpikir mundur akhirnya saya paham maksud bapak ini, memang tadi banyak rekan onthelis waktu konvoi meletakkan bendera merah putih di belakang jog / sadel walaupun terikat di tiang yang lebih tinggi dari kepala (mungkin bapak ini tadi melihat iring-iringan konvoi). Untungnya kami berdua meletakkan bendera merah putih kecil tidak dibelakang tapi di tiang bendera yang terikat di as roda depan (tapi tingginya hanya sebatas roda depan lebih tinggi sedikit). Saya dan rekan hanya bisa manggut-manggut mendengar tutur kata sesepuh ini lantas pamit setelah bersalaman. Maafkan kami kakek... maafkan kami para pejuang dan pahlawan karena menghormati bendera merah putih saja kami masih kurang benar.

0 komentar: